Lagi seneng banget dengerin album barunya Adam Lambert. Sst..sebenernya belum dirilis secara official sampai tanggal 15 Mei nanti hehe...tapi kalau gue ngga salah merhatiin lirik ya, sepertinya kali ini Adam agak sedikit mengusung tema-tema LGBT juga di dalam albumnya. Salah satu yang menarik perhatian gue dan cepet banget diterima kuping itu "Outlaws of love". Very Enjoyable dan agak sedikit gimanaa gitu kalau didengerin buat homo-homo galau hahaha...dan kalau mau diperhatikan lagi, ada pesan-pesan yang jelas untuk para penentang LGBT di dalem lirik lagu ini ;)
here you go the lyric:
oh, nowhere left to go.
are we getting closer, closer?
no, all we know is no.
nights are getting colder, colder.
hey.
tears all fall the same.
we all feel the rain
we can’t change.
everywhere we go
we're lookin’ for the sun.
nowhere to grow old.
we're always on the run.
they say we’ll rot in hell
but i don’t think we will
they’ve branded us enough
outlaws of love.
scars make us who we are
hearts and homes are broken, broken.
far, we could go so far
with our minds wide open, open.
Hey, tears all fall the same
we all feel the rain
we can’t change.
everywhere we go
we're lookin’ for the sun.
nowhere to grow old.
we're always on the run.
they say we’ll rot in hell
but i don’t think we will
they’ve branded us enough
outlaws of love.
nb: Adam lambert ganteng banget yiaa...out of topic yea..but sigh...*kedip2*
Fried Durian
Bisexual is an overstatement. Lesbian is an understatement. We just know how to enjoy live by being in each others arms. This is our fun queer story from Indonesia..
Minggu, 13 Mei 2012
Outlaws of love by Adam Lambert
Labels:
adam lambert,
homosexual,
lyric,
mithya,
music,
promo,
proud
Minggu, 29 April 2012
Coming out as a person with BPD
To be queer
and mentally ill LoL just kidding. Let’s just say, to have a challenging
personality. Sebagai seorang in the closet queer, gue rasa banyak banget yang
bisa merasa senasib sepenanggungan dengan gue. Tapi gue baru kenal segelintir
yang juga queer dan punya masalah gangguan kepribadian atau gangguan um..mental
hahaha. God, that is so weird to say things like this dimana masyarakat sini
masih menganggap kata-kata “gangguan mental” sangat negatif dan identik dengan
GILA. Whew..imagine all the prejudice our society have about gay people. Now
add all the prejudice our society have about mentally troubled people. Nah, nikmat
kan? Sebenernya gue yakin banyak banget di luar sana yang punya nasib sama
dengan gue, tapi either lo sama ngerinya dengan reaksi orang lain atau lo
bahkan ngga sadar lo punya masalah psikologis.
Gue pingin
share sedikit dengan cerita gue coming out. Bukan sebagai queer, tapi sebagai
seseorang yang punya gangguan kepribadian. Gue udah cerita dikit kalau gue
punya gangguan kepribadian borderline. Dan walaupun sepertinya gue pernah
menjanjikan menjelaskan lebih lanjut, gue masih males banget hahaha…Intinya
gangguan kepribadian gue yang paling um..sebut aja “normal” diantara 9 gangguan kepribadian
yang lain tapi termasuk yang paling menyiksa diri sendiri dan orang terdekat karena
masih sadar betul dengan kelakuan-kelakuan ngaco yang bisa diperbuat karena
punya gangguan ini. Feel free lho untuk google. But try to keep open minded dan
jangan seenaknya ngebuat judgement kalau belum bener-bener ngerti. Apalagi kalau lo belum pernah berinteraksi secara dekat dan intensif dengan satu makhluk hidup yang punya masalah ini. Itu namanya sotoy hehe..
Kayaknya
kita semua yang in the closet tau gimana rasanya ngeri kalau sampe orang lain
apalagi orangtua tau kita queer. Selama ngumpet-ngumpet aja gue yakin kalian
udah pernah ngalamin beberapa kali yang namanya “gay panic”. Itu lho, panik-panik bergembira ketika rasanya lo atau ada orang lain yang melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan identitas queer lo terbongkar haha. Terus ada nih privilage moment buat beberapa orang yang punya keberanian besar untuk akhirnya coming out ke orang tua mereka. Rasanya juga panik-panik bergembira tuh hehe. Well I dont know how it feels to come out to your parents that you are gay, but I'm gonna guess that its not that really completely different from coming out to your parent that you are mentally ill. At least in Indonesia...dan at least ke orang tua macam orang tua gue. Gue ngomongin tentang gimana rasanya waktu lo menimbang dan akhirnya memutuskan untuk come out, tentang kejadian hari H dimana akhirnya lo ngomong secara langsung dan reaksi orang tua setelahnya.
Kejadiannya waktu itu hanya beberapa hari dari gue dikasih tau sama psikolog gue kalau gue didiagnosa punya gangguan kepribadian borderline (iya, psikolog bisa juga punya psikolog,. Emang cuma jeruk doang yang boleh makan jeruk? hehe). Rasanya dunia gue dibolak balik. Bukan karena hasil diganosanya, karena gue udah curiga sama diri gue sendiri sebelum didiagnosa, tapi lebih karena gue harus ngasih tau hasilnya ke orang tua gue. Lain dengan queer yang mungkin bisa cukup lama menyembunyikan identitasnya, punya gangguan kepribadian tanpa dapet support dari lingkungan terdekat lo bisa berakibat cukup buruk. Gue terus-terusan menimbang pro dan kontra dari gue coming out. Terus-terusan cemas dengan bagaimana reaksi orang tua kalau udah tau dan bagaimana gue harus siap dicap sebagai "orang sakit" yang pada saat-saat tidak menyenangkan bisa dijadikan senjata untuk menyakiti gue.
So there I was. Duduk di seberang orang tua gue dan memberikan hasil surat tes psikologi berisi penjabaran diagnosa diri gue. Isinya ngga ringan, men. Gue dibilang hostile, paranoid, kurang dalam kemampuan mengendalikan emosi, dan mudah mengalami depresi, (whew, gue harus tarik napas dulu nulis ini semua hehe). Mau gue misalnya sepinter apa pun di psikologi atau bahkan udah curiga sebelumnya dengan kondisi ini, untuk pada akhirnya ngebaca hasil itu semua di sebuah kertas dengan cap resmi Rumah Sakit dan tanda tangan si psikolog, gue masih ngerasa kayak ditonjok perutnya hehe. Terus gue harus nunggu reaksi orang tua ngebaca penjabaran diagnosa gue sepanjang 2 halaman kertas HVS yang rasanya kayak duduk disitu selama beberapa jam. Pertama nunggu reaksi bokap, terus nunggu reaksi nyokap. nyett..gue sih gayanya sok sibuk (padahal cuma mainin HP), padahal perasaan udah kayak diaduk-aduk ketakutan.
Hasilnya? Bokap ngga bicara banyak. Gue termasuk beruntung punya bokap yang cukup smart. Bisa cukup ngerti dengan psikologi dan udah cukup terbuka dan santai untuk nanya-nanya tentang masalah yang gue alami, atau apa yang gue dapet tiap gue pulang dari sesi terapi gue ke psikolog. Dia "hanya" menanyakan apa yang bisa gue lakukan untuk memperbaiki keadaan gue. Tapi kalau nyokap kasusnya lain. Nyokap gue orang yang sangat konservatif dan sangat in denial tentang banyak hal. Dia bahkan ngga baca surat itu sampe akhir. Granted waktu itu kita dikejar waktu untuk urusan lain, tapi dia ngga nanya lagi untuk menyelesaikan membaca surat itu to this day. Sedangkan gue ngga punya energi untuk menghadapai betapa negatifnya reaksi nyokap terhadap kondisi gue sekali lagi.
Perasaan gue ngga karuan. Satu sisi gue masih dapet pengertian dari bokap, tapi di sisi lain gue ngerasa kayak nyokap ngga perduli sama sekali. Masih menanyakan hal-hal yang udah jelas jawabannya berhubungan dengan keadaan gue, seakan-akan gue melakukan semua hal yang gue ngga mampu kontrol karena gue males usaha. Masih menuduh gue dengan hal-hal yang ngga menyenangkan. Bahkan terkadang kalau dia udah marah, manggil gue dengan sebutan "dasar kamu emang orang aneh". Ironis memang. Gue seorang psikolog yang salah satu orang tuanya bener-bener ngga ngerti (atau ngga mau usaha ngerti) tentang psikologi. Ngerti kan kenapa gue bisa ngeliat paralel antara coming out sebagai queer dan sebagai seseorang dengan gangguan mental?
Dengan keadaan pola pikir masyarakat kita yang masih cukup primitif seperti sekarang, banyak hal yang bisa disembunyikan orang karena mereka takut dengan bagaimana orang lain melihat diri mereka. Cuma bisa mengambil fokus apa yang dianggap orang lain negatif dan lupa dengan apa yang dimiliki sisanya yang positif dari orang itu. Seorang queer cuma bisa dilihat sebagai gay/lesbian/biseksual, hence, pendosa atau orang aneh, terus ngga ada lagi yang bisa diliat dari diri mereka. Seseorang yang punya gangguan kepribadian cuma bisa dilihat sebagai orang gila. Lucunya, kebanyakan masyarakat belum berusaha untuk mengerti lebih lanjut untuk topik-topik yang tabu ini dan udah cukup puas dengan apa yang mereka percaya dari apa yang mereka dengar dari orang lain.
Keadaan seperti ini kayak lingkaran setan. Ketika masyarakat menutup mata tentang hal-hal yang dianggap negatif dan tabu serta ngga mau belajar lebih lanjut, hal ini juga berpengaruh besar ke kemauan si individu yang memiliki sesuatu yang disembunyikan ini untuk mencari tahu lebih lanjut. Mau cari tahu kemana kalau nanya aja mungkin udah bikin perasaan panik-panik bergembira muncul? Hasilnya? Baik masyarakat yang ignoran atau pun si indivdu jadi sama-sama bodoh. Padahal semakin banyak kita mengerti tentang hal-hal yang dianggap tabu ini, semakin besar rasa empati kita, semakin besar rasa ingin menolong kita dan banyak banget keadaan-keadaan buruk yang mungkin terjadi karena konsekuensi bisa dihindari.
SO I'm pleading here. Sebagian besar pembaca blog ini adalah queers, jadi kurang lebih tau ya rasanya dijudge sebagai orang aneh hanya karena kita queer. Jadi yang gue minta tolong, kalau kalian belum begitu menerti tentang gangguan mental, coba deh cari tau dikit sebelum ketok palu. Apalagi kala u ada orag-orag di sekitar kalian yang memang memiliki masalah itu. Siapa tau bahkan lo mungkin bisa ngebantu mereka-mereka yang belum sadar dan dapet bantuan. Sisanya yang straight, baik gay friendly or not, gue harap kalian juga udah punya sikap positif untuk berusaha mencari tahu tentang hal-hal yang kalian ngga begitu ngerti dan bahkan ngga mengalaminya sendiri. Kalian juga bisa membantu lebih baik kalau kalian mengerti toh? Be it you want to try to make a queer go straight atau seseorang dengan gangguan mental mendapat treatment yang tepat. All your free choice. It wont hurt to learn more right?
Sabtu, 21 April 2012
I am a mood swinger and She's a........
Minggu, 01 April 2012
Pro minoritas
Sebulan yang lalu gue dibuat kesel sama jawaban ngasal Lushka. Ceritanya kita rencana mau ketemuan. Biasanya juga gue nanya ada yang mau dibawain ngga. Soalnya gue kan biasanya jadi distributor lagu dan film buat Lushka hehe...pas gue tanya dia mau lanjutin nonton Glee atau ngga, biar gue burn ke DVD, ternyata dia nolak. Alasannya yang bikin gue kesel: "Abis sekarang semua orang udah tau Glee. Udah pada ngomongin mulu di twitter, jadinya males." DOENG..gue takjub. Langsung nyolot gara-gara jawaban ngga masuk akal kayak gitu. Bisa-bisanya suka sama sesuatu HANYA karena ngga ada yang tau. Sepenting itu kah untuk jadi beda dibanding esensi si film/seri itu sendiri?? Ujung-ujungnya sih setelah gue sindir entah berapa kali, Lushka nyerah juga dan mengakui kalau alasannya rada ngaco. Dia emang lagi bosen juga (inget kan betapa mudahnya si Lushka bosen sama sesuatu?).
Nah, hari ini gue keinget tentang hal serupa yang kejadian sama diri gue sendiri. Gue punya sifat pro-minoritas yang mungkin lebih parah dari Lushka. Gue udah lama denger kalau Titanic mau dibuat 3D dan ditayangin ulang. Akhirnya kejadian juga tuh. Mulai minggu depan, Titanic 3D bakal ditayangin di bioskop-bioskop Amerika. Hal ini mengingatkan gue kalau dulu gue anti banget nonton Titanic. Lebih tepatnya SEMUA film Leonardo DiCaprio. Pada jamannya, Mas Leo ini mulai terkenal luas lewat perannya di film Romeo and Juliet versi remaja. Walaupun karir filmnya udah dimulai jauh lebih muda dari itu. Standar lah, pada masa Mas Leo muda ini, tabloid remaja Jakarta demen banget ngebahas betapa GANTENGnya para aktor-aktor muda yang lagi terkenal pada masa itu beserta poni pirang belah pantat mereka. Oh the gruesome men's hair in the 90's. Inget JTT atau Devon Sawa? Hahaha...nyebut nama mereka bikin inget umur deh..jadi ngga enak sendiri. Intinya waktu itu gue kesel banget ngeliat gimana cewek-cewek seumur gue bisa tergila-gila dengan para aktor yang aktingnya aja baru beberapa kali, cuma karena GANTENG BERATS BOW...
JTT sama Devon Sawa waktu itu nga terlalu signifikan karena mereka emang cuma muncul sekali-dua kali di film dan hilang entah kemana rimbanya. Si Mas Leo ini yang bikin gue gregetan. namanya muncul dalam beberapa film yang muncul hampir saling berdekatan seperti Titanic, The man in the iron mask dan The Beach. Gue waktu itu bertekad ngga bakalan nonton film-film "sampah" Mas Leo ini. Karena gue yakin banget dia cuma jual tampang DAN karena semua orang sepertinya suka banget sama dia.
Akhirnya setelah hampir 10 tahun film Titanic keluar, gue iseng nonton Catch me if you can di RCTI. Gue pikir yasudahlah ya..ngga ada kerjaan, ada Tom Hanks sebagai pemeran utama, dan mulai nyadar betapa kekanak-kanakannya alasan gue ngga mau nonton film-filmnya Mas Leo. Belum nonton kok udah sibuk menghakimi. Ternyata gue cukup terkesan dengan aktingnya di film itu. Pelan-pelan kalau ada film dia di TV, gue mau nonton. Gue nonton Titanic lengkap setelah hampir 10 tahun ditayangin di bioskop. Pendapat gue ngga bener-bener salah sih...dulu jaman dia main di Titanic atau jaman dia masih terhitung muda, aktingnya biasa aja. Cenderung ngga berarti. Tapi sepertinya semenjak Catch me if you can, dia mulai nunjukkin kalau dia bisa jadi aktor watak yang bagus. I can name a few after that seperti Inception atau Blood diamond.
Intinya, gue sebenernya ngerti banget perasaan Lushka yang pro-minoritas ini. Gue bisa bener-bener ngga suka sama Mas Leo karena semua cewek pada masanya tergila-gila sama dia. Ngga cuma dalam hal aktor/aktris. Jangan harap gue akan pernah ngebela Manchester United. Sampe detik ini gue benci banget sama tim itu hanya karena pada masanya (dan sekarang masih agak juga sih), mereka tim yang punya nama paling disebut diantara semua tim bola lainnya. Di saat hampir semua orang pilih tim eropa di World Cup, gue bela-belain tim afrika dan asia (walaupun pada akhirnya untungnya ternyata tim non-eropa mainnya GAHAR bos hihi..). Dari tim Jepang belum punya gigi, gue udah bela mereka abis-abisan sebelum akhirnya mereka juga jadi salah satu tim favorit dunia akhir-akhir ini.
Bedanya sama Lushka..gue kalau udah sempet jadi minoritas yang ngefans sama sesuatu terus tiba-tiba si "sesuatu" ini jadi kesukaan banyak orang, gue bukan ilang rasa sama si "sesuatu". Gue bakal kesel berat sama orang-orang yang baru melek. Gue kesel sama orang-orag yang baru jadi suporter Jepang atau Korea , gue kesel sama orang-orang yang baru suka sama hoobastank atau semisonic. Pokoknya gue duluan, itu punya gueeee...hahahaha...ga kurang childish apa lagi coba? Kalau sampe gue suka sesuatu yang disukain orang banyak, si "sesuatu" itu harus bener-bener berkesan dan worth it.
Tapi itu dulu. Sekarang sih nyisa dikit-dikit aja. Gue rubah dari kesel sama orang-orang yang baru melek, jadi belagu karena gue yang suka dan tau duluan hahaha...penting ngga sih jadi minoritas untuk hal-hal sepele? ngga kan? yang matters itu hanya lo suka atau ngga. That's it.
Jadi, note to self: Pro-minoritas bisa jadi bikin ngerasa keren tapi kalau berlebihan bisa kekanak-kanakan. =P
psst..lagian Mas Leo kan sekarang udah gendutan tuh..tua dikit dia bisa mirip banget sama Jack Nicholson. Jadi kalo cewek-cewek masih pada suka, artinya ngga cuma karena tampangnya aja huahahaha...
Nah, hari ini gue keinget tentang hal serupa yang kejadian sama diri gue sendiri. Gue punya sifat pro-minoritas yang mungkin lebih parah dari Lushka. Gue udah lama denger kalau Titanic mau dibuat 3D dan ditayangin ulang. Akhirnya kejadian juga tuh. Mulai minggu depan, Titanic 3D bakal ditayangin di bioskop-bioskop Amerika. Hal ini mengingatkan gue kalau dulu gue anti banget nonton Titanic. Lebih tepatnya SEMUA film Leonardo DiCaprio. Pada jamannya, Mas Leo ini mulai terkenal luas lewat perannya di film Romeo and Juliet versi remaja. Walaupun karir filmnya udah dimulai jauh lebih muda dari itu. Standar lah, pada masa Mas Leo muda ini, tabloid remaja Jakarta demen banget ngebahas betapa GANTENGnya para aktor-aktor muda yang lagi terkenal pada masa itu beserta poni pirang belah pantat mereka. Oh the gruesome men's hair in the 90's. Inget JTT atau Devon Sawa? Hahaha...nyebut nama mereka bikin inget umur deh..jadi ngga enak sendiri. Intinya waktu itu gue kesel banget ngeliat gimana cewek-cewek seumur gue bisa tergila-gila dengan para aktor yang aktingnya aja baru beberapa kali, cuma karena GANTENG BERATS BOW...
JTT sama Devon Sawa waktu itu nga terlalu signifikan karena mereka emang cuma muncul sekali-dua kali di film dan hilang entah kemana rimbanya. Si Mas Leo ini yang bikin gue gregetan. namanya muncul dalam beberapa film yang muncul hampir saling berdekatan seperti Titanic, The man in the iron mask dan The Beach. Gue waktu itu bertekad ngga bakalan nonton film-film "sampah" Mas Leo ini. Karena gue yakin banget dia cuma jual tampang DAN karena semua orang sepertinya suka banget sama dia.
Akhirnya setelah hampir 10 tahun film Titanic keluar, gue iseng nonton Catch me if you can di RCTI. Gue pikir yasudahlah ya..ngga ada kerjaan, ada Tom Hanks sebagai pemeran utama, dan mulai nyadar betapa kekanak-kanakannya alasan gue ngga mau nonton film-filmnya Mas Leo. Belum nonton kok udah sibuk menghakimi. Ternyata gue cukup terkesan dengan aktingnya di film itu. Pelan-pelan kalau ada film dia di TV, gue mau nonton. Gue nonton Titanic lengkap setelah hampir 10 tahun ditayangin di bioskop. Pendapat gue ngga bener-bener salah sih...dulu jaman dia main di Titanic atau jaman dia masih terhitung muda, aktingnya biasa aja. Cenderung ngga berarti. Tapi sepertinya semenjak Catch me if you can, dia mulai nunjukkin kalau dia bisa jadi aktor watak yang bagus. I can name a few after that seperti Inception atau Blood diamond.
Intinya, gue sebenernya ngerti banget perasaan Lushka yang pro-minoritas ini. Gue bisa bener-bener ngga suka sama Mas Leo karena semua cewek pada masanya tergila-gila sama dia. Ngga cuma dalam hal aktor/aktris. Jangan harap gue akan pernah ngebela Manchester United. Sampe detik ini gue benci banget sama tim itu hanya karena pada masanya (dan sekarang masih agak juga sih), mereka tim yang punya nama paling disebut diantara semua tim bola lainnya. Di saat hampir semua orang pilih tim eropa di World Cup, gue bela-belain tim afrika dan asia (walaupun pada akhirnya untungnya ternyata tim non-eropa mainnya GAHAR bos hihi..). Dari tim Jepang belum punya gigi, gue udah bela mereka abis-abisan sebelum akhirnya mereka juga jadi salah satu tim favorit dunia akhir-akhir ini.
Bedanya sama Lushka..gue kalau udah sempet jadi minoritas yang ngefans sama sesuatu terus tiba-tiba si "sesuatu" ini jadi kesukaan banyak orang, gue bukan ilang rasa sama si "sesuatu". Gue bakal kesel berat sama orang-orang yang baru melek. Gue kesel sama orang-orag yang baru jadi suporter Jepang atau Korea , gue kesel sama orang-orang yang baru suka sama hoobastank atau semisonic. Pokoknya gue duluan, itu punya gueeee...hahahaha...ga kurang childish apa lagi coba? Kalau sampe gue suka sesuatu yang disukain orang banyak, si "sesuatu" itu harus bener-bener berkesan dan worth it.
Tapi itu dulu. Sekarang sih nyisa dikit-dikit aja. Gue rubah dari kesel sama orang-orang yang baru melek, jadi belagu karena gue yang suka dan tau duluan hahaha...penting ngga sih jadi minoritas untuk hal-hal sepele? ngga kan? yang matters itu hanya lo suka atau ngga. That's it.
Jadi, note to self: Pro-minoritas bisa jadi bikin ngerasa keren tapi kalau berlebihan bisa kekanak-kanakan. =P
psst..lagian Mas Leo kan sekarang udah gendutan tuh..tua dikit dia bisa mirip banget sama Jack Nicholson. Jadi kalo cewek-cewek masih pada suka, artinya ngga cuma karena tampangnya aja huahahaha...
Selasa, 20 Maret 2012
Adventures (dream)
Note : Ini mimpi agak futuristik. hihi
Jadi. ceritanya di mimpi itu gue sama partner gue ikutan road trip - hedonis bareng satu grup, kira-kira 15 orang, ada beberapa couple termasuk gue berdua.
Tapi instead menggunakan alat transportasi, kami menggunakan lift buat berpergian (haha!), tiap lantai akan terbuka di beda negara. New York, Tokyo, Brazil, dll. hihi.
Ini scene shootnya model yang fast forward - ngeflash , my hands on her hips, or she leaned on me. Dari club ke club. Tiap kali lift kebuka we're cheering sumringah gitu.
Ready to rock the night.
Trus di hari keberapa , my partner signing off, dia bilang dia capek. Nyuruh gue cuz sendiri, dia make sure kalo she'll be okay, cuma butuh tidur setelah beberapa hari jor-joran.
Agak hesitated sebenarnya, tapi karena dibujukin teman-teman dan dia sendiri, akhirnya gue cabut.
Sampai di lift, gue kok ngerasa ga enak, kasian si partner. Then, gue calling off the night, pulang lagi ke hotelnya.
Setiba di penthouse (iye, kita nyewa penthouse buat rame-rame, gue mah kalo ngimpi ga nanggung. hihi), aku mencari si partner.
Manggil-manggil. Kok ora ono.
Terus aku nyari ke balkon.
And there she is. Naked. On top of a man. SHYT. She titled her head back enjoying the ride. oh fukko.
Dan bagian paling nyebelinnya adalaaaaaah I have personal issue with that guy. He's a total dick.
Marah - kesel - bingung. I decided to sleep it off (begok, kenapa ga dijorokin aja dari balkon ya? hihi)
Pas jalan ke kamar, ketemu satu teman cewek yang hobbynya emang flirting ama gue, ternyata dia juga balik ke hotel karena bosen.
Dia nanya kenapa muka gue kusut, gue bilang ga enak badan mau tiduran. And I am making my move, asking her, mau nememin ga. Hahaha"
Dan dia mau. Nyahaha. The last thing I remember from the dream, I gave my mischieve grin and thinking "fuck with the girlfriend. I will have my own night"
--FIN
(kangen bisa inget mimpi-mimpi kacrut gue. belakangan lupa melulu. huh)
Labels:
Lushka
Selasa, 06 Maret 2012
Lushka & Mithya - Origin
Seharusnya postingan ini dibuat dulu waktu masih jadian. hehe.
Tapi utang kan teteup utang ya.
Tapi utang kan teteup utang ya.
Dan kebetulan ada beberapa teman yang nanya juga, kenapa nick name kami, Lushka dan Mithya
Waktu itu (jieh).
Waktu itu kami punya blog di friendster , dimana cuma kami berdua yang bisa baca, terus bibit narsis kami menggelegak, meminta untuk dipuaskan.
Kami butuh sarana buat PDA, mamer, berbagi our thoughts dan pada dasarnya kami emang suka menulis, maka hijrahlah kami ke blogspot.
But wait, kalo di friendster, kami masih bisa pakai nama asli kami sendiri, ga mungkin banget kalau di laman yang bisa diakses semua orang kami tetap nekat dengan nama asli. Belum siap buat coming out hehe.
So, setelah dapat inspirasi buat nama blog (Fried Durian), mulai mikir, apa yaaa nick buat kami berdua. Masa Fried and Durian? Aneh banget. hihi.
Jadilah itu tugas gue. Proses penemuannya pun ga sengaja, karena kami juga niat ga niat gitu.
(berkedip-kedip mengingat yang silam)
So. Mithya adalah subject yang menarik buat gue, dia penulis, dia perempuan, dia memiliki complicated-life dengan kepribadiannya yang kuat. Dia ngingetin gue sama Clarissa Dalloway dari buku Mrs. Dalloway, Virigina Wolf. Gue suka banget ama perempuan yang bisa menuliskan tentang dirinya tanpa bikin eneg,naive, rational, ada shadow, humor yang kadang kasar, pahit, getir juga manis. Bahasa ga berlebihan, tapi tepat.
jieh.
Pokoknya lah ya, Mithya reminds me alot dengan penulis-penulis perempuan yang menakjubkan dengan kepribadian yang kompleks. And, oh yeah, Virginia Wolf disinyalir punya ketertarikan biseksual.
hehe.
Gue sebelumnya udah sering ngulik-ngulik tentang V.W, and i found this web : http://www.sappho.com/letters/vitas-w.html
Aku menemukan seorang Vita Sackville yang katanya mantannya V.W dan jadi inspirasi buat VW nulis Orlando.
Makin iseng tangan eike nyari tau, dari Vita Sackville, nemu Violet Trefusis. Gue mengangguk-ngangguk. Interesting.
Vita dan Violet was a couple, mereka berdua pernah kabur barengan nyebrang Eropa ,terus disusulin suami-suami mereka, dibujukin pulang.Hahaha. Such a scandal.
Ya intinya gitu lah ya. Kisah kedua perempuan penulis ini sangat sangat sangat menarik. Later I found out, Vita ngasih pet name buat Violet, Lushka, dan dia nyebut dirinya Mitya.
It's like a voila. Aku mau nama ituuu. So, gue ngambil yang Violetnya - Lushka, Mithya (dengan modifikasi "H") gue kasih namanya Vita. And yeh, some other reasons di balik itu. Sebut saja, takdir. haha.
Semoga cukup puas dengan penjelasan gue, dari mana Mithya & Lushka berasal hehe.
Kalau mau baca lebih lanjut , here's some references :
(sorry banget kalo ga gitu jelas, later gue deskripsiin per tokoh deh. Amen)
Labels:
Lushka
Rabu, 29 Februari 2012
Smile, now. You are worthy (Glee/Cough Syrup)
I believe I have to share this very strong scene from Glee a week a go. Say no to bullying for any kind reason. Lagu-lagu yang ditampilin Glee minggu lalu bertema tentang menjadi seseorang yang tetap kuat walaupun rasanya udah ngga punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. Padahal kalau kita mau tunggu sebentar, sehari, seminggu, sebulan...kita bisa liat berapa banyak orang yang peduli dan sayang sama kita. But most of all, we will see that there millions of things that we haven't see or experienced and we're eager to get there someday.
Aside from that, I'm giving special big prop for Max Adler for giving his best to portray a troubled in-the-closet jock High school that got bullied and Darren Criss to do a very well cover version of Young the Giant Cough syrup.
I wont stop saying, that you're not alone in this. There are so many people that feels like shit out there, that at this very second are thinking life is worthless and there are no one who you can relate to. But you're wrong. Coz I've been there and life is not that simple to look through one eye. When you still have something to make you smile today, trust me, life is still worth living for =)
Labels:
friends,
gay,
Glee,
homophobic,
homosexual,
proud,
psikologi,
special,
video
Sabtu, 25 Februari 2012
Evanescence 2012- Concert Update
Labels:
Lushka
Jumat, 24 Februari 2012
Evanescence Concert 2012
Gue super excited besok mau nonton Evanescence!
It's like a dream comes true.
Seriously.
Dulu, gue ama Mithya pernah sumpah-sumpah kalau sampai Amy Lee main di Indonesia, kita musti nonton. Dan kejadian. Besok sore. Evanescence manggung!!
25 Feb 2012, PRJ.
It's a literal WOHOOOOO!
Tadi nelpon Mithya, nanya rencana perginya gimana besok, ngakak-ngakak ngebayangin gimana besok Mithya mau nonton dengan kondisi ga bisa berhenti batuk. Very much comical.
Dan keselip obrolan soal setlist konser'nya (kita emang segitu niatnya kalau mau nonton, usaha cari setlist, supaya tau lagu apa yang harus dihapal. Ha ha!), salah satu lagu yang akan mereka tampilkan itu 'Call Me when You're Sober', single hits mereka.
Gue cerita ngingetin ke Mithya, kalau lagu ini, agak-agak meaning buat gue. Karena, lagu ini nendang banget pas di awal-awal pdkt dulu. (Masukan jieh disini, please)
Pada masa itu, ada sepupu gue yang assigned ring tone hape'nya lagu ini. Dan gue selalu belingsatan. Karena gue inget Mithya.
Mithya suka banget lagu ini, karena lagu ini one of the anthem songs *usaha* move on'nya dari salah satu mantannya.
Ironis ya. Mithya picked this song buat mewakili perasaannya ke si mantan. Dan gue, picked the song, just simply because I knew she liked it. And I kinda had a big crush on her.
Kita ngakak-ngakak reminiscing the good ole' times.
And it makes me a bit gloomy afterward.
But yeah, what done is done. We decided everything together, in a mutual agreement.
And I know, I can't stay in gloomy mood since the Goddess is in town. Please welcome, Amy Lee & Evanescence.
We'll have a good time, B. Let's scream it out loud from the top of our lungs.
Rock on!
Ps. I am so happy that we have one of our concerts wishlist together (again). Looking forward for the next events. Offspring? Amen.
It's like a dream comes true.
Seriously.
Dulu, gue ama Mithya pernah sumpah-sumpah kalau sampai Amy Lee main di Indonesia, kita musti nonton. Dan kejadian. Besok sore. Evanescence manggung!!
25 Feb 2012, PRJ.
It's a literal WOHOOOOO!
Tadi nelpon Mithya, nanya rencana perginya gimana besok, ngakak-ngakak ngebayangin gimana besok Mithya mau nonton dengan kondisi ga bisa berhenti batuk. Very much comical.
Dan keselip obrolan soal setlist konser'nya (kita emang segitu niatnya kalau mau nonton, usaha cari setlist, supaya tau lagu apa yang harus dihapal. Ha ha!), salah satu lagu yang akan mereka tampilkan itu 'Call Me when You're Sober', single hits mereka.
Gue cerita ngingetin ke Mithya, kalau lagu ini, agak-agak meaning buat gue. Karena, lagu ini nendang banget pas di awal-awal pdkt dulu. (Masukan jieh disini, please)
Pada masa itu, ada sepupu gue yang assigned ring tone hape'nya lagu ini. Dan gue selalu belingsatan. Karena gue inget Mithya.
Mithya suka banget lagu ini, karena lagu ini one of the anthem songs *usaha* move on'nya dari salah satu mantannya.
Ironis ya. Mithya picked this song buat mewakili perasaannya ke si mantan. Dan gue, picked the song, just simply because I knew she liked it. And I kinda had a big crush on her.
Kita ngakak-ngakak reminiscing the good ole' times.
And it makes me a bit gloomy afterward.
But yeah, what done is done. We decided everything together, in a mutual agreement.
And I know, I can't stay in gloomy mood since the Goddess is in town. Please welcome, Amy Lee & Evanescence.
We'll have a good time, B. Let's scream it out loud from the top of our lungs.
Rock on!
Ps. I am so happy that we have one of our concerts wishlist together (again). Looking forward for the next events. Offspring? Amen.
Labels:
Lushka
Rabu, 22 Februari 2012
Reality twist
Ini becandaan sama temen 'lagi' deket gue soal minta dikawinin ke Mamah sama pacar cewek.
Alibi: Hamil
Me : Ma, aku hamil.
Mama : apaaaa! Lalu gimana?! Siapa yang menghamili kamu! Mau tanggung jawab ga?!
Me : Yang menghamili ga penting siapa, Ma. Yang penting ada yang mau tanggung jawab. *gandeng pacar cewe* . Dia mapan, seiman, mau tanggung jawab dan yang paling penting, kita saling cinta.
Mama : *pingsan*
Huehehehe.
Bisa ga sih begitu?
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Alibi: Hamil
Me : Ma, aku hamil.
Mama : apaaaa! Lalu gimana?! Siapa yang menghamili kamu! Mau tanggung jawab ga?!
Me : Yang menghamili ga penting siapa, Ma. Yang penting ada yang mau tanggung jawab. *gandeng pacar cewe* . Dia mapan, seiman, mau tanggung jawab dan yang paling penting, kita saling cinta.
Mama : *pingsan*
Huehehehe.
Bisa ga sih begitu?
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Labels:
Lushka
Langganan:
Entri (Atom)


